Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Mengurangi Emisi

Mungkin saat ini kita sudah tahu tentang istilah jejak karbon. Ada banyak perusahaan berbasis sumber daya alam di Indonesia yang diklaim meninggalkan jejak karbon, termasuk perusahaan kelapa sawit. Namun perusahaan yang berada dibawah pimpinan Sukanto Tanoto dalam hal ini Asian Agri, PT RAPP dan semua anak perusahaan dibawah naungan RGE berusaha untuk menekan emisi karbon tersebut dalam operasional perusahaannya.

Emisi karbon memang cukup berbahaya apalagi jika jumlahnya besar karena hal tersebut bisa mengakibatkan suatu pencemaran terhadap lingkungan. Untuk mengatasi dan menangani hal semacam ini Sukanto Tanoto melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir keberadaannya. Lantas bagaimana cara perusahaan Sukanto Tanoto mengurangi emisi tersebut?

Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Mengurangi Emisi 

PT RAPP

Sebagai sebuah perusahaan pulp and paper yang ternama di Indonesia, PT Riau Andalan Pulp and Paper yang juga merupakan anak perusahaan dari Royal Golden Eagle mengalami masalah pada jejak karbon yang timbul atas kegiatan produksinya. Memang secara umum jejak karbon bisa terserap oleh hutan industri yang terdapat di sekitar perusahaan akan tetapi tentu jika hal ini secara terus menerus berlangsung tanpa adanya upaya untuk melakukan penanggulangan maka tentu jejak karbon ini akan tetap menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian lingkungan hidup pada akhirnya.

Karena itu anak perusahaan dari Royal Golden Eagle sebagai suatu perusahaan yang berkomitmen tak hanya sebatas mencari keuntungan bisnis melainkan juga memperhatikan kelangsungan alam beserta lingkungan berusaha mencari solusi demi mengatasi masalah tingginya jejak karbon yang dihasilkan.

Dalam hal ini kemudian cara perusahaan Sukanto Tanoto mengendalikan dan mengeluarkan emisi dengan menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk menganalisa penyebab dan berusaha menekan jejak karbon yang telah dihasilkan oleh pihak perusahaan. Kemudian dari hasil riset yang dilakukan pada akhirnya PT RAPP menempuh jalan untuk mengganti bahan bakar fosil sebagai suatu solusi demi mengurangi jejak karbon yang telah dihasilkan. Kemudian PT RAPP mengganti dengan bahan bakar methanol yang berasal dari limbah produksi pulp yang masih berbahan baku sebuah tanaman black liquor.

Bahan bakar methanol sendiri juga tergolong ke dalamnya berupa biofuel yang diyakini mampu mengurangi jejak karbon serta dampak negatif atas lingkungan. Hal ini karena jenis bahan bakar ini jauh lebih ramah lingkungan dengan tidak melepaskan suatu gas karbondioksida jika digunakan sebagai suatu bahan bakar. Akan tetapi walau demikian, PT RAPP tak bisa begitu saja mengganti secara total keseluruhan dari bahan bakar proses produksi dengan biofuel yang terbarukan dan ramah lingkungan ini. Diperlukan juga proses dan tahapan yang bisa jadi cukup menyita waktu demi perubahan bahan bakar proses produksinya dimana tak bisa dilakukan secara instan dan dalam tempo yang sekejab mata saja. Dan pada akhirnya kini PT RAPP telah menggunakan bahan bakar methanol kurang lebih sebanyak 87% dari total bahan bakar untuk kegiatan produksi sementara sisanya sebesar 13% masih memanfaatkan bahan bakar dari fosil.

Jadi bisa dibilang walau belum mampu secara utuh menekan jejak karbon yang dihasilkan secara maksimal akan tetapi langkah yang bisa diambil oleh PT RAPP ini menjadi bukti kepedulian perusahaan atas kelestarian lingkungan di waktu perusahaan yang lain bergerak di bidang sama justru cenderung acuh atas jejak karbon yang mereka sudah hasilkan dari limbah industrinya sendiri. Tentu saja fokus dalam mengurangi suatu emisi yang diberlakukan oleh PT RAPP tentu tak hanya akan digalakkan untuk PT RAPP saja. Melainkan lebih dari itu semua perusahaan dibawah naungan RGE juga akan mementingkan pengolahan dan penanggulangan emisi dari proses industri yang sedang berjalan.

Popular Posts